Tet. . .tet. . .tet. . .Bel pulang sudah di bunyikan, seluruh murid SMA QLA 31 Bogor bersorak gembira menyambut bel pulang yang sudah dinanti-nantikan dari tadi.
“Akhirnya, bel pulang berbunyi juga . Haha aku bisa langsung pulang untuk maen game.” Ucap Reno keras.
“Ah kamu kerjaannya maen game terus! Haha …” Rudi menyinggung perkataan Reno.
“Gak apa-apa dong mumpung kita maih muda ,kita nikmati hidup ini!” Reno membalas singgungan Rudi dengan diiringi tawa.
Siswa – siswi merapikan semua alat tulis kedalam tas masing-masing dengan semangat dan dengan mimik muka yang ceria. Lain hal nya dengan Rifki , Rifki yang duduk di bangku paling sudut kelas , dia merapikan alat tulis dengan muka pucat,lesuh,tak sediktpun keceriaan terlukis di wajahnya. Reno dan Rudi merasa aneh dengan hal itu, sikap Rifki yang akhir-akhir ini sering melamun, sering menyendiri membuat mereka bertanya-tanya.
“Ren, Ren, lihat ! Sikap Rifki makin hari makin membingungkan saja!” Rudi menarik lengan Reno yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduk.
“Iya yah! Kenapa tuh anak ?” Reno menghentikan langkahnya, tegap terpaku menatap kearah Rifki, mereka menghampiri Rifki yang sudah mulai beranjak dari tempay duduknya.
“Tunggu !” Rudi mencoba menghentikan langkah Rifki.
“Kamu kenapa sih ? kami perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun menyendiri ? kamu ada masalah ?” belum sempat Rifki menjawab pertanyaan Rudi, Reno menghampiri Rifki lebih dekat, dengan tangan kanannya dia merangkul pundak Rifki.
“Kita kan teman, kalo kamu lagi punya masalah, cerita sama kami, kami pasti bantu kamu.” Ucap Reno dengan nada rendah.
Seakan tak peduli, Rifki dengan muka dingin beranjak keluar kelas tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Reno mengejar Rifki dan berkata, “ayolah, katakan apa masalah mu? Cerita sama kami !” Reno mencoba meyakinkan Rifki.
Rifki terdiam sejenak, dengan posisi wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan berkata, “Bukan urusan kalian!”. Melihat kelakuan Rifki, Reno dan Rudi hanya saling bertatapan, mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya, sikap Rifki berubah drastis.
Suasana panas, terik matahari membuat tenggorokan terasa sangat kering.
Hiruk pikuk kondii pasar sangat terasa dengan banyaknya orang yang berlalu lalang menjual dan membeli suatu barang di pasar tersebut.Gemuruh suara tawar-menawra menambah suasana semakin panas.
“Ayo cepat, cepat, angkat barangnya!” seorang lelaki berotot besar berteriak kepada para pekerjanya.
“Rifki, lambat sekali kerja mu?! Ayo cepat bawa semua barang-barang kedalam mobil bak itu! ” Sentak lelaki seorang lelaki besar yang tidak lain adalah bos nya Rifki!
“Iya pak.” Jawab Rifki dengan tertatih-tatih memanggul barang dengan punggungnya.
“Kalo kerja mu seperti itu terus, jangan harap kamu bisa mengais uang hari ini!” kembali Rifki di sentak bos nya.
“Oh tuhan kuatkanlah hamba mu ini!” ucap Rifki dalam hati mencoba tetap tegar.
Memang setelah kepergian ayahnya, Rifki terpaksa harus menjadi tulang
punggung keluarga, demi masa depan dia dan keluarga, Rifki harus rela membagi waktu antara sekolah dan bekerja,harus rela membagi masa remajanya dengan membanting tulang, memeras keringat hanya demi menghidupi keluarganya.
“Tuhan . . . terlalu berat ujian yang kau berikan, aku tak sanggup menjalani ini semua.” Ucap Rifki dalam hati dengan rintih.
“Aku tak tau pa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menyerah? Apa aku harus mengeluh?” kembali Rifki bergumam dalam hati.
Sering Rifki mengeluh, dia tak percaya kehidupan yang pahit harus dia rasakan, kepergian ayahnya membuat hidup ia dan keluarganya berubah 180®.
“Tuhan. . . Jika ini adalah jalan terbaik ku, aku jalani, akan ku jalani perihnya hidup ini.” Rifki mencoba bangkit.
Seakan malu dengan rembulan, matahari mulai bosan menampakan dirinya.Lambat laun mentari pun tenggelam di ufuk barat, satu persatu bintang bermunculan, cahaya rembulan mulai hadir di keheningan malam.
Rifki yang merasa sangat kelelahan, tak bisa lagi menahan kantuk setelah usai melakukan semua pekerjaan.
Setelah berhari-hari, akhirnya Rudi & Reno tahu alasan yang menyebabkan Rifki sering menyendiri & sering melamun di kelas.
Kini berkat dukungan Reno & Rudi, Rifki kembali menjadi pribadi yang tegar dan semangat.Setiap pulang sekolah dia bekerja dengan semangat demi keluarganya.Tet. . .tet. . .tet. . .Bel pulang sudah di bunyikan, seluruh murid SMA QLA 31 Bogor bersorak gembira menyambut bel pulang yang sudah dinanti-nantikan dari tadi.
“Akhirnya, bel pulang berbunyi juga . Haha aku bisa langsung pulang untuk maen game.” Ucap Reno keras.
“Ah kamu kerjaannya maen game terus! Haha …” Rudi menyinggung perkataan Reno.
“Gak apa-apa dong mumpung kita maih muda ,kita nikmati hidup ini!” Reno membalas singgungan Rudi dengan diiringi tawa.
Siswa – siswi merapikan semua alat tulis kedalam tas masing-masing dengan semangat dan dengan mimik muka yang ceria. Lain hal nya dengan Rifki , Rifki yang duduk di bangku paling sudut kelas , dia merapikan alat tulis dengan muka pucat,lesuh,tak sediktpun keceriaan terlukis di wajahnya. Reno dan Rudi merasa aneh dengan hal itu, sikap Rifki yang akhir-akhir ini sering melamun, sering menyendiri membuat mereka bertanya-tanya.
“Ren, Ren, lihat ! Sikap Rifki makin hari makin membingungkan saja!” Rudi menarik lengan Reno yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduk.
“Iya yah! Kenapa tuh anak ?” Reno menghentikan langkahnya, tegap terpaku menatap kearah Rifki, mereka menghampiri Rifki yang sudah mulai beranjak dari tempay duduknya.
“Tunggu !” Rudi mencoba menghentikan langkah Rifki.
“Kamu kenapa sih ? kami perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun menyendiri ? kamu ada masalah ?” belum sempat Rifki menjawab pertanyaan Rudi, Reno menghampiri Rifki lebih dekat, dengan tangan kanannya dia merangkul pundak Rifki.
“Kita kan teman, kalo kamu lagi punya masalah, cerita sama kami, kami pasti bantu kamu.” Ucap Reno dengan nada rendah.
Seakan tak peduli, Rifki dengan muka dingin beranjak keluar kelas tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Reno mengejar Rifki dan berkata, “ayolah, katakan apa masalah mu? Cerita sama kami !” Reno mencoba meyakinkan Rifki.
Rifki terdiam sejenak, dengan posisi wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan berkata, “Bukan urusan kalian!”. Melihat kelakuan Rifki, Reno dan Rudi hanya saling bertatapan, mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya, sikap Rifki berubah drastis.
Suasana panas, terik matahari membuat tenggorokan terasa sangat kering.
Hiruk pikuk kondii pasar sangat terasa dengan banyaknya orang yang berlalu lalang menjual dan membeli suatu barang di pasar tersebut.Gemuruh suara tawar-menawra menambah suasana semakin panas.
“Ayo cepat, cepat, angkat barangnya!” seorang lelaki berotot besar berteriak kepada para pekerjanya.
“Rifki, lambat sekali kerja mu?! Ayo cepat bawa semua barang-barang kedalam mobil bak itu! ” Sentak lelaki seorang lelaki besar yang tidak lain adalah bos nya Rifki!
“Iya pak.” Jawab Rifki dengan tertatih-tatih memanggul barang dengan punggungnya.
“Kalo kerja mu seperti itu terus, jangan harap kamu bisa mengais uang hari ini!” kembali Rifki di sentak bos nya.
“Oh tuhan kuatkanlah hamba mu ini!” ucap Rifki dalam hati mencoba tetap tegar.
Memang setelah kepergian ayahnya, Rifki terpaksa harus menjadi tulang
punggung keluarga, demi masa depan dia dan keluarga, Rifki harus rela membagi waktu antara sekolah dan bekerja,harus rela membagi masa remajanya dengan membanting tulang, memeras keringat hanya demi menghidupi keluarganya.
“Tuhan . . . terlalu berat ujian yang kau berikan, aku tak sanggup menjalani ini semua.” Ucap Rifki dalam hati dengan rintih.
“Aku tak tau pa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menyerah? Apa aku harus mengeluh?” kembali Rifki bergumam dalam hati.
Sering Rifki mengeluh, dia tak percaya kehidupan yang pahit harus dia rasakan, kepergian ayahnya membuat hidup ia dan keluarganya berubah 180®.
“Tuhan. . . Jika ini adalah jalan terbaik ku, aku jalani, akan ku jalani perihnya hidup ini.” Rifki mencoba bangkit.
Seakan malu dengan rembulan, matahari mulai bosan menampakan dirinya.Lambat laun mentari pun tenggelam di ufuk barat, satu persatu bintang bermunculan, cahaya rembulan mulai hadir di keheningan malam.
Rifki yang merasa sangat kelelahan, tak bisa lagi menahan kantuk setelah usai melakukan semua pekerjaan.
Setelah berhari-hari, akhirnya Rudi & Reno tahu alasan yang menyebabkan Rifki sering menyendiri & sering melamun di kelas.
Kini berkat dukungan Reno & Rudi, Rifki kembali menjadi pribadi yang tegar dan semangat.Setiap pulang sekolah dia bekerja dengan semangat demi keluarganya.Tet. . .tet. . .tet. . .Bel pulang sudah di bunyikan, seluruh murid SMA QLA 31 Bogor bersorak gembira menyambut bel pulang yang sudah dinanti-nantikan dari tadi.
“Akhirnya, bel pulang berbunyi juga . Haha aku bisa langsung pulang untuk maen game.” Ucap Reno keras.
“Ah kamu kerjaannya maen game terus! Haha …” Rudi menyinggung perkataan Reno.
“Gak apa-apa dong mumpung kita maih muda ,kita nikmati hidup ini!” Reno membalas singgungan Rudi dengan diiringi tawa.
Siswa – siswi merapikan semua alat tulis kedalam tas masing-masing dengan semangat dan dengan mimik muka yang ceria. Lain hal nya dengan Rifki , Rifki yang duduk di bangku paling sudut kelas , dia merapikan alat tulis dengan muka pucat,lesuh,tak sediktpun keceriaan terlukis di wajahnya. Reno dan Rudi merasa aneh dengan hal itu, sikap Rifki yang akhir-akhir ini sering melamun, sering menyendiri membuat mereka bertanya-tanya.
“Ren, Ren, lihat ! Sikap Rifki makin hari makin membingungkan saja!” Rudi menarik lengan Reno yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduk.
“Iya yah! Kenapa tuh anak ?” Reno menghentikan langkahnya, tegap terpaku menatap kearah Rifki, mereka menghampiri Rifki yang sudah mulai beranjak dari tempay duduknya.
“Tunggu !” Rudi mencoba menghentikan langkah Rifki.
“Kamu kenapa sih ? kami perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun menyendiri ? kamu ada masalah ?” belum sempat Rifki menjawab pertanyaan Rudi, Reno menghampiri Rifki lebih dekat, dengan tangan kanannya dia merangkul pundak Rifki.
“Kita kan teman, kalo kamu lagi punya masalah, cerita sama kami, kami pasti bantu kamu.” Ucap Reno dengan nada rendah.
Seakan tak peduli, Rifki dengan muka dingin beranjak keluar kelas tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Reno mengejar Rifki dan berkata, “ayolah, katakan apa masalah mu? Cerita sama kami !” Reno mencoba meyakinkan Rifki.
Rifki terdiam sejenak, dengan posisi wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan berkata, “Bukan urusan kalian!”. Melihat kelakuan Rifki, Reno dan Rudi hanya saling bertatapan, mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya, sikap Rifki berubah drastis.
Suasana panas, terik matahari membuat tenggorokan terasa sangat kering.
Hiruk pikuk kondii pasar sangat terasa dengan banyaknya orang yang berlalu lalang menjual dan membeli suatu barang di pasar tersebut.Gemuruh suara tawar-menawra menambah suasana semakin panas.
“Ayo cepat, cepat, angkat barangnya!” seorang lelaki berotot besar berteriak kepada para pekerjanya.
“Rifki, lambat sekali kerja mu?! Ayo cepat bawa semua barang-barang kedalam mobil bak itu! ” Sentak lelaki seorang lelaki besar yang tidak lain adalah bos nya Rifki!
“Iya pak.” Jawab Rifki dengan tertatih-tatih memanggul barang dengan punggungnya.
“Kalo kerja mu seperti itu terus, jangan harap kamu bisa mengais uang hari ini!” kembali Rifki di sentak bos nya.
“Oh tuhan kuatkanlah hamba mu ini!” ucap Rifki dalam hati mencoba tetap tegar.
Memang setelah kepergian ayahnya, Rifki terpaksa harus menjadi tulang
punggung keluarga, demi masa depan dia dan keluarga, Rifki harus rela membagi waktu antara sekolah dan bekerja,harus rela membagi masa remajanya dengan membanting tulang, memeras keringat hanya demi menghidupi keluarganya.
“Tuhan . . . terlalu berat ujian yang kau berikan, aku tak sanggup menjalani ini semua.” Ucap Rifki dalam hati dengan rintih.
“Aku tak tau pa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menyerah? Apa aku harus mengeluh?” kembali Rifki bergumam dalam hati.
Sering Rifki mengeluh, dia tak percaya kehidupan yang pahit harus dia rasakan, kepergian ayahnya membuat hidup ia dan keluarganya berubah 180®.
“Tuhan. . . Jika ini adalah jalan terbaik ku, aku jalani, akan ku jalani perihnya hidup ini.” Rifki mencoba bangkit.
Seakan malu dengan rembulan, matahari mulai bosan menampakan dirinya.Lambat laun mentari pun tenggelam di ufuk barat, satu persatu bintang bermunculan, cahaya rembulan mulai hadir di keheningan malam.
Rifki yang merasa sangat kelelahan, tak bisa lagi menahan kantuk setelah usai melakukan semua pekerjaan.
Setelah berhari-hari, akhirnya Rudi & Reno tahu alasan yang menyebabkan Rifki sering menyendiri & sering melamun di kelas.
Kini berkat dukungan Reno & Rudi, Rifki kembali menjadi pribadi yang tegar dan semangat.Setiap pulang sekolah dia bekerja dengan semangat demi keluarganya.
“Akhirnya, bel pulang berbunyi juga . Haha aku bisa langsung pulang untuk maen game.” Ucap Reno keras.
“Ah kamu kerjaannya maen game terus! Haha …” Rudi menyinggung perkataan Reno.
“Gak apa-apa dong mumpung kita maih muda ,kita nikmati hidup ini!” Reno membalas singgungan Rudi dengan diiringi tawa.
Siswa – siswi merapikan semua alat tulis kedalam tas masing-masing dengan semangat dan dengan mimik muka yang ceria. Lain hal nya dengan Rifki , Rifki yang duduk di bangku paling sudut kelas , dia merapikan alat tulis dengan muka pucat,lesuh,tak sediktpun keceriaan terlukis di wajahnya. Reno dan Rudi merasa aneh dengan hal itu, sikap Rifki yang akhir-akhir ini sering melamun, sering menyendiri membuat mereka bertanya-tanya.
“Ren, Ren, lihat ! Sikap Rifki makin hari makin membingungkan saja!” Rudi menarik lengan Reno yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduk.
“Iya yah! Kenapa tuh anak ?” Reno menghentikan langkahnya, tegap terpaku menatap kearah Rifki, mereka menghampiri Rifki yang sudah mulai beranjak dari tempay duduknya.
“Tunggu !” Rudi mencoba menghentikan langkah Rifki.
“Kamu kenapa sih ? kami perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun menyendiri ? kamu ada masalah ?” belum sempat Rifki menjawab pertanyaan Rudi, Reno menghampiri Rifki lebih dekat, dengan tangan kanannya dia merangkul pundak Rifki.
“Kita kan teman, kalo kamu lagi punya masalah, cerita sama kami, kami pasti bantu kamu.” Ucap Reno dengan nada rendah.
Seakan tak peduli, Rifki dengan muka dingin beranjak keluar kelas tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Reno mengejar Rifki dan berkata, “ayolah, katakan apa masalah mu? Cerita sama kami !” Reno mencoba meyakinkan Rifki.
Rifki terdiam sejenak, dengan posisi wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan berkata, “Bukan urusan kalian!”. Melihat kelakuan Rifki, Reno dan Rudi hanya saling bertatapan, mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya, sikap Rifki berubah drastis.
Suasana panas, terik matahari membuat tenggorokan terasa sangat kering.
Hiruk pikuk kondii pasar sangat terasa dengan banyaknya orang yang berlalu lalang menjual dan membeli suatu barang di pasar tersebut.Gemuruh suara tawar-menawra menambah suasana semakin panas.
“Ayo cepat, cepat, angkat barangnya!” seorang lelaki berotot besar berteriak kepada para pekerjanya.
“Rifki, lambat sekali kerja mu?! Ayo cepat bawa semua barang-barang kedalam mobil bak itu! ” Sentak lelaki seorang lelaki besar yang tidak lain adalah bos nya Rifki!
“Iya pak.” Jawab Rifki dengan tertatih-tatih memanggul barang dengan punggungnya.
“Kalo kerja mu seperti itu terus, jangan harap kamu bisa mengais uang hari ini!” kembali Rifki di sentak bos nya.
“Oh tuhan kuatkanlah hamba mu ini!” ucap Rifki dalam hati mencoba tetap tegar.
Memang setelah kepergian ayahnya, Rifki terpaksa harus menjadi tulang
punggung keluarga, demi masa depan dia dan keluarga, Rifki harus rela membagi waktu antara sekolah dan bekerja,harus rela membagi masa remajanya dengan membanting tulang, memeras keringat hanya demi menghidupi keluarganya.
“Tuhan . . . terlalu berat ujian yang kau berikan, aku tak sanggup menjalani ini semua.” Ucap Rifki dalam hati dengan rintih.
“Aku tak tau pa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menyerah? Apa aku harus mengeluh?” kembali Rifki bergumam dalam hati.
Sering Rifki mengeluh, dia tak percaya kehidupan yang pahit harus dia rasakan, kepergian ayahnya membuat hidup ia dan keluarganya berubah 180®.
“Tuhan. . . Jika ini adalah jalan terbaik ku, aku jalani, akan ku jalani perihnya hidup ini.” Rifki mencoba bangkit.
Seakan malu dengan rembulan, matahari mulai bosan menampakan dirinya.Lambat laun mentari pun tenggelam di ufuk barat, satu persatu bintang bermunculan, cahaya rembulan mulai hadir di keheningan malam.
Rifki yang merasa sangat kelelahan, tak bisa lagi menahan kantuk setelah usai melakukan semua pekerjaan.
Setelah berhari-hari, akhirnya Rudi & Reno tahu alasan yang menyebabkan Rifki sering menyendiri & sering melamun di kelas.
Kini berkat dukungan Reno & Rudi, Rifki kembali menjadi pribadi yang tegar dan semangat.Setiap pulang sekolah dia bekerja dengan semangat demi keluarganya.Tet. . .tet. . .tet. . .Bel pulang sudah di bunyikan, seluruh murid SMA QLA 31 Bogor bersorak gembira menyambut bel pulang yang sudah dinanti-nantikan dari tadi.
“Akhirnya, bel pulang berbunyi juga . Haha aku bisa langsung pulang untuk maen game.” Ucap Reno keras.
“Ah kamu kerjaannya maen game terus! Haha …” Rudi menyinggung perkataan Reno.
“Gak apa-apa dong mumpung kita maih muda ,kita nikmati hidup ini!” Reno membalas singgungan Rudi dengan diiringi tawa.
Siswa – siswi merapikan semua alat tulis kedalam tas masing-masing dengan semangat dan dengan mimik muka yang ceria. Lain hal nya dengan Rifki , Rifki yang duduk di bangku paling sudut kelas , dia merapikan alat tulis dengan muka pucat,lesuh,tak sediktpun keceriaan terlukis di wajahnya. Reno dan Rudi merasa aneh dengan hal itu, sikap Rifki yang akhir-akhir ini sering melamun, sering menyendiri membuat mereka bertanya-tanya.
“Ren, Ren, lihat ! Sikap Rifki makin hari makin membingungkan saja!” Rudi menarik lengan Reno yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduk.
“Iya yah! Kenapa tuh anak ?” Reno menghentikan langkahnya, tegap terpaku menatap kearah Rifki, mereka menghampiri Rifki yang sudah mulai beranjak dari tempay duduknya.
“Tunggu !” Rudi mencoba menghentikan langkah Rifki.
“Kamu kenapa sih ? kami perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun menyendiri ? kamu ada masalah ?” belum sempat Rifki menjawab pertanyaan Rudi, Reno menghampiri Rifki lebih dekat, dengan tangan kanannya dia merangkul pundak Rifki.
“Kita kan teman, kalo kamu lagi punya masalah, cerita sama kami, kami pasti bantu kamu.” Ucap Reno dengan nada rendah.
Seakan tak peduli, Rifki dengan muka dingin beranjak keluar kelas tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Reno mengejar Rifki dan berkata, “ayolah, katakan apa masalah mu? Cerita sama kami !” Reno mencoba meyakinkan Rifki.
Rifki terdiam sejenak, dengan posisi wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan berkata, “Bukan urusan kalian!”. Melihat kelakuan Rifki, Reno dan Rudi hanya saling bertatapan, mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya, sikap Rifki berubah drastis.
Suasana panas, terik matahari membuat tenggorokan terasa sangat kering.
Hiruk pikuk kondii pasar sangat terasa dengan banyaknya orang yang berlalu lalang menjual dan membeli suatu barang di pasar tersebut.Gemuruh suara tawar-menawra menambah suasana semakin panas.
“Ayo cepat, cepat, angkat barangnya!” seorang lelaki berotot besar berteriak kepada para pekerjanya.
“Rifki, lambat sekali kerja mu?! Ayo cepat bawa semua barang-barang kedalam mobil bak itu! ” Sentak lelaki seorang lelaki besar yang tidak lain adalah bos nya Rifki!
“Iya pak.” Jawab Rifki dengan tertatih-tatih memanggul barang dengan punggungnya.
“Kalo kerja mu seperti itu terus, jangan harap kamu bisa mengais uang hari ini!” kembali Rifki di sentak bos nya.
“Oh tuhan kuatkanlah hamba mu ini!” ucap Rifki dalam hati mencoba tetap tegar.
Memang setelah kepergian ayahnya, Rifki terpaksa harus menjadi tulang
punggung keluarga, demi masa depan dia dan keluarga, Rifki harus rela membagi waktu antara sekolah dan bekerja,harus rela membagi masa remajanya dengan membanting tulang, memeras keringat hanya demi menghidupi keluarganya.
“Tuhan . . . terlalu berat ujian yang kau berikan, aku tak sanggup menjalani ini semua.” Ucap Rifki dalam hati dengan rintih.
“Aku tak tau pa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menyerah? Apa aku harus mengeluh?” kembali Rifki bergumam dalam hati.
Sering Rifki mengeluh, dia tak percaya kehidupan yang pahit harus dia rasakan, kepergian ayahnya membuat hidup ia dan keluarganya berubah 180®.
“Tuhan. . . Jika ini adalah jalan terbaik ku, aku jalani, akan ku jalani perihnya hidup ini.” Rifki mencoba bangkit.
Seakan malu dengan rembulan, matahari mulai bosan menampakan dirinya.Lambat laun mentari pun tenggelam di ufuk barat, satu persatu bintang bermunculan, cahaya rembulan mulai hadir di keheningan malam.
Rifki yang merasa sangat kelelahan, tak bisa lagi menahan kantuk setelah usai melakukan semua pekerjaan.
Setelah berhari-hari, akhirnya Rudi & Reno tahu alasan yang menyebabkan Rifki sering menyendiri & sering melamun di kelas.
Kini berkat dukungan Reno & Rudi, Rifki kembali menjadi pribadi yang tegar dan semangat.Setiap pulang sekolah dia bekerja dengan semangat demi keluarganya.Tet. . .tet. . .tet. . .Bel pulang sudah di bunyikan, seluruh murid SMA QLA 31 Bogor bersorak gembira menyambut bel pulang yang sudah dinanti-nantikan dari tadi.
“Akhirnya, bel pulang berbunyi juga . Haha aku bisa langsung pulang untuk maen game.” Ucap Reno keras.
“Ah kamu kerjaannya maen game terus! Haha …” Rudi menyinggung perkataan Reno.
“Gak apa-apa dong mumpung kita maih muda ,kita nikmati hidup ini!” Reno membalas singgungan Rudi dengan diiringi tawa.
Siswa – siswi merapikan semua alat tulis kedalam tas masing-masing dengan semangat dan dengan mimik muka yang ceria. Lain hal nya dengan Rifki , Rifki yang duduk di bangku paling sudut kelas , dia merapikan alat tulis dengan muka pucat,lesuh,tak sediktpun keceriaan terlukis di wajahnya. Reno dan Rudi merasa aneh dengan hal itu, sikap Rifki yang akhir-akhir ini sering melamun, sering menyendiri membuat mereka bertanya-tanya.
“Ren, Ren, lihat ! Sikap Rifki makin hari makin membingungkan saja!” Rudi menarik lengan Reno yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat duduk.
“Iya yah! Kenapa tuh anak ?” Reno menghentikan langkahnya, tegap terpaku menatap kearah Rifki, mereka menghampiri Rifki yang sudah mulai beranjak dari tempay duduknya.
“Tunggu !” Rudi mencoba menghentikan langkah Rifki.
“Kamu kenapa sih ? kami perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun menyendiri ? kamu ada masalah ?” belum sempat Rifki menjawab pertanyaan Rudi, Reno menghampiri Rifki lebih dekat, dengan tangan kanannya dia merangkul pundak Rifki.
“Kita kan teman, kalo kamu lagi punya masalah, cerita sama kami, kami pasti bantu kamu.” Ucap Reno dengan nada rendah.
Seakan tak peduli, Rifki dengan muka dingin beranjak keluar kelas tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Reno mengejar Rifki dan berkata, “ayolah, katakan apa masalah mu? Cerita sama kami !” Reno mencoba meyakinkan Rifki.
Rifki terdiam sejenak, dengan posisi wajah tertunduk dia melanjutkan langkahnya dan berkata, “Bukan urusan kalian!”. Melihat kelakuan Rifki, Reno dan Rudi hanya saling bertatapan, mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya, sikap Rifki berubah drastis.
Suasana panas, terik matahari membuat tenggorokan terasa sangat kering.
Hiruk pikuk kondii pasar sangat terasa dengan banyaknya orang yang berlalu lalang menjual dan membeli suatu barang di pasar tersebut.Gemuruh suara tawar-menawra menambah suasana semakin panas.
“Ayo cepat, cepat, angkat barangnya!” seorang lelaki berotot besar berteriak kepada para pekerjanya.
“Rifki, lambat sekali kerja mu?! Ayo cepat bawa semua barang-barang kedalam mobil bak itu! ” Sentak lelaki seorang lelaki besar yang tidak lain adalah bos nya Rifki!
“Iya pak.” Jawab Rifki dengan tertatih-tatih memanggul barang dengan punggungnya.
“Kalo kerja mu seperti itu terus, jangan harap kamu bisa mengais uang hari ini!” kembali Rifki di sentak bos nya.
“Oh tuhan kuatkanlah hamba mu ini!” ucap Rifki dalam hati mencoba tetap tegar.
Memang setelah kepergian ayahnya, Rifki terpaksa harus menjadi tulang
punggung keluarga, demi masa depan dia dan keluarga, Rifki harus rela membagi waktu antara sekolah dan bekerja,harus rela membagi masa remajanya dengan membanting tulang, memeras keringat hanya demi menghidupi keluarganya.
“Tuhan . . . terlalu berat ujian yang kau berikan, aku tak sanggup menjalani ini semua.” Ucap Rifki dalam hati dengan rintih.
“Aku tak tau pa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menyerah? Apa aku harus mengeluh?” kembali Rifki bergumam dalam hati.
Sering Rifki mengeluh, dia tak percaya kehidupan yang pahit harus dia rasakan, kepergian ayahnya membuat hidup ia dan keluarganya berubah 180®.
“Tuhan. . . Jika ini adalah jalan terbaik ku, aku jalani, akan ku jalani perihnya hidup ini.” Rifki mencoba bangkit.
Seakan malu dengan rembulan, matahari mulai bosan menampakan dirinya.Lambat laun mentari pun tenggelam di ufuk barat, satu persatu bintang bermunculan, cahaya rembulan mulai hadir di keheningan malam.
Rifki yang merasa sangat kelelahan, tak bisa lagi menahan kantuk setelah usai melakukan semua pekerjaan.
Setelah berhari-hari, akhirnya Rudi & Reno tahu alasan yang menyebabkan Rifki sering menyendiri & sering melamun di kelas.
Kini berkat dukungan Reno & Rudi, Rifki kembali menjadi pribadi yang tegar dan semangat.Setiap pulang sekolah dia bekerja dengan semangat demi keluarganya.





